Rabu, 23 Mei 2012

Aliran Hinayana dan Mahayana

Latar belakang
Semenjak Sang Buddha parinibbana terdapat beberapa usaha untuk menlestarikan ajaran Buddha. Diprakarsai oleh Maha Kassapa terbentuklah Sanghayana I yang berusaha melestarikan ajaran Buddha dengan mengulang kembali ajaran-ajaran Buddha melalui bhikkhu Ananda dan Bhikkhu Upali yang mengulang Dhamma dan Vinaya.
Demikian seterusnya guna melestarikan Dhamma dan Vinaya dilakukan Sanghayana-Sanghayana yang lain. Pada Sanghayana ke dua terdapat permasalahan dimana bhikkhu-bhikkhu dari suku Vajji mengajukan 10 point peraturan yang berbeda sekali dengan yang telah ada. Menurut cullavagga hal ini teru berlanjut menjadi konflik yang akhirnya menimbulkan munculnya gerakan baru yaitu Mahayana sedang yang konservatif disebut hinayana. Tetapi menurut Mahavagga setelah terjadinya perdebatan itu masalah selesai dan masing-masing pihak menerimanya. Tidak terjadi sanghayana lain yang dilakukan oleh kelompok kontra konservatif.
Kedua aliran itu telah berkembang masing-masing dengan segala atributnya masing-masing. Keduanya telah memperkaya kompleksitas Buddhisme. Kedua aliran ini mempunyai persamaan karena berasal atau bersumber pada hal yang sama yaitu Buddha. Keduanya juga mempunyai perbedaan-perbedaan yang mendasar karena prinsip-prinsip diantara keduanya berbeda.


PEMBAHASAN

  1. 1.   Aliran Mahayana
Sebelum muncul aliran Mahayana dan Hinayana, agama Buddha terpecah menjadi dua yaitu golongan Sthawirawada dan golongan Mahasangghika.  yang mana masing-masing meliputi berbagai aliran yang berdekatan. Pecahnya aliran ini di karenakan adanya perbedaan faham dan tafsiran antara kedua golongan tersebut.[1]
Mahayana merupakan Aliran Buddha yang memperkenalkan unsur mistik dan kemungkinan semua orang dapat menikmati nirvana yang utuh.[2]
Penganut aliran Mahayana mengembangkan sebuah anggapan bahwa ajaran mereka lebih meluas, superior dan memiliki doktrin yang lebih tinggi dari pada Hinayan. Doktrin terbaru menempatkan Buddha sebagai pusat dan pencipta ajaran Buddha dengan pemahaman yang lebih meluas terhadap Buddha.[3]
Seorang raja yang yang terkenal sebagai pelindung Buddha adalah Kaniska( abad peretengahan tarikh masehi) dari Agama Buddha terpecah menjadi dua yaitu golongan Sthawirawada dan golongan Mahasangghika keluarga Kusana suku bangsa caka yang memerintah di daerah Punjab. Dibawah pimpinannya telah dilangsungkanya Muktamar di Jalandara, tetapi yang berkumpul hanyalah mereka dari golongan Mahasangghika.[4]
Perbedaan antara golongan golongan Sthawirawada dan golongan Mahasangghika yang sudah sedemikian lebar, sehingga masing-masing telah menempuh jalan sendiri dan mengalami perkembangan sendiri pula.Dalam abad ke-2 Masehi tampillah Nagarjuna yang berhasil membulatkan aliran-aliran Mahasangghika, sehingga kini menjadi bentuk baru yang memakai nama Mahayana sebagai lawan yang tegas dari golongan Sthawirawada yang mereka sebut Hinayana.[5]
 Mahayana terdiri dari dua kata yakni maha (besar) dan yana (kendaraan), jadi secara etimologis berarti kendaraan besar. Ide maha merujuk pada tujuan religius seorang buddhis yaitu menjadi Bodhisatva Samasamboddhi (Buddha sempurna). Mahayana (berasal dari bahasa Sansekerta: , mahāyāna yang secara harafiah berarti 'Kendaraan Besar') adalah satu dari dua aliran utama Agama Buddha dan merupakan istilah pembagian filosofi dan ajaran Sang Buddha. Mahayana, yang dilahirkan di India.
          Bagi pengikut Mahayana  diyakini, bahwa setiap umat Budha hanya dapat mecapai Nirwana kalau mendapat bantuan para orang suci yang telah mendahului mereka dan lelah menempati kedudukan baik di nirwana tersebut.[6]
Sutra Teratai merupakan rujukan sampingan penganut Buddha aliran Mahayana. Tokoh Kwan Im yang bermaksud "maha mendengar" atau nama Sansekertanya "Avalokiteśvara" merupakan tokoh Mahayana dan dipercayai telah menitis beberapa kali dalam alam manusia untuk memimpin umat manusia ke jalan kebenaran. Dia diberikan sifat-sifat keibuan seperti penyayang dan lemah lembut. Menurut sejarahnya Avalokitesvara adalah seorang lelaki murid Buddha, akan tetapi setelah pengaruh Buddha masuk ke Tiongkok, profil ini perlahan-lahan berubah menjadi sosok feminin dan dihubungkan dengan legenda yang ada di Tiongkok sebagai seorang dewi.
Penyembahan kepada Amitabha Buddha (Amitayus) merupakan salah satu aliran utama Buddha Mahayana. Sorga Barat merupakan tempat tujuan umat Buddha aliran Sukhavati selepas mereka meninggal dunia dengan berkat kebaktian mereka terhadap Buddha Amitabha dimana mereka tidak perlu lagi mengalami proses reinkarnasi dan dari sana menolong semua makhluk hidup yang masih menderita di bumi.
Mereka mempercayai mereka akan lahir semula di Sorga Barat untuk menunggu saat Buddha Amitabha memberikan khotbah Dhamma dan Buddha Amitabha akan memimpin mereka ke tahap mencapai 'Buddhi' (tahap kesempurnaan dimana kejahilan, kebencian dan ketamakan tidak ada lagi). Ia merupakan pemahaman Buddha yang paling disukai oleh orang Tionghoa.
Seorang Buddha bukannya dewa atau makhluk suci yang memberikan kesejahteraan. Semua Buddha adalah pemimpin segala kehidupan ke arah mencapai kebebasan daripada kesengsaraan. Hasil amalan ajaran Buddha inilah yang akan membawa kesejahteraan kepada pengamalnya.
Menurut Buddha Gautama , kenikmatan Kesadaran Nirwana yang dicapainya di bawah pohon Bodhi, tersedia kepada semua makhluk apabila mereka dilahirkan sebagai manusia. Menekankan konsep ini, aliran Buddha Mahayana khususnya merujuk kepada banyak Buddha dan juga bodhisattva (makhluk yang tekad "committed" pada Kesadaran tetapi menangguhkan Nirvana mereka agar dapat membantu orang lain pada jalan itu).


Penyebaran aliran Mahayana antara abad pertama - abad ke-10 Masehi.
Dari saat itu dan dalam kurun waktu beberapa abad, Mahayana berkembang dan menyebar ke arah timur. Dari India ke Asia Tenggara, lalu juga ke utara ke Asia Tengah, Tiongkok, Korea, dan akhirnya Jepang pada tahun 538.

  1. 2.    Aliran Hinayana
Kata Hinayana bukanlah berasal dari bahasa Tibet, bukan berasal dari bahasa China, Inggris ataupun Bantu, tetapi berasal dari bahasa Pali dan Sanskerta. Oleh karena itu, satu-satunya pendekatan yang masuk akal untuk menemukan arti dari kata tersebut, adalah mempelajari bagaimana kata hiinayaana digunakan dalam teks Pali dan Sanskerta.
 Hinayana terdiri dari hina (kecil) dan yana sering disebut sebagai  kendaraan kecil karena bertujuan menjadi arahat maupun paccekabuddha yang dianggap lebih rendah (inferior). Istilah Hinayana sendiri sebenarnya merupakan istilah yang diberikan oleh kaum Mahayana. pengikut aliran Hinayana tersebar mulai dari Srilanka, Burma , Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Laos.
Tradisi yang berkembang selama berabad-abad telah mengubah praktek sempit aliran Hinayana yang pada awalnya hanya di tujukan untuk bikhu. Hinayana menjadi aliran yang besar dengan di kenal ditenggah masyarakat. Para bikhuni terus menekuni ajaran guna mencapai tingkat arhat. namun metode baru berkembang untuk perumah tangga (umat awam) dalam mempraktikkan ajaran Agama Budha, meskipun mereka tinggal bersama keluarga, memiliki harta dan mengejar karir. Aliran hinayana mengajarkan kepada pengikutnya untuk hidup sesuai ajaran, puas dengan apa yang diperoleh, dan hidup bahagia dengan janji bahwa mereka akan terlahir kembali di alam yang menyenangkan dalam kehidupan selanjudnya.[7]

Persebaran aliran Hinayana  
Bagi aliran Hinayana beranggapan bahwa keberhasilan umat Buddha dalam mencapai nirwana hanya dengan usaha sendiri, tanpa bantuan dari pihak luar manapun.  Aliran Hinayana di pandang lebih mendekati ajaran Buddha yang asli, karena tidak mengenal dewa-dewa penolong yang akan membantu setiap umat dalam mencapai nirwana.[8]

Persamaan dan perbedaan antara Mahayana dan Hinayana

1.  Mengakui Buddha Sakyamuni sebagai guru agung yang telah tercerahkan.
2.  Bersumber pada kitab Suci Tipitaka (Pali=Hinayana) atau Tripitaka (Sanskrit=Mahayana).
3.  Mengakui bahwa keberadaan suatu individu adalah penderitaan dan menginginkan terbebas dari penderitaan ini.
4.  Kebebasan hanya tercapai jika telah melenyapkan Lobha/raga, dosa/dvesa dan Moha.
5.  Mengakui hukum karma/kamma yaitu hukum perbuatan siapa yang berbuat dia yang akan menerima buah akibatnya. Percaya pada kelahiran kembali yang sangat dekat dengan hokum karma yaitu ia yang berbuat baik akan terlahir di alam yang bahagia demikian sebaliknya.
6.  Mengakui adanya hukum sebab-musabab yang saling bergantungnan meski menurut TH.Stcherbatsky, Ph.D mereka mempunyai interpretasi masing-masing tetapi dalam hal ini mereka mengakui bahwa segala sesuatu adalah bergantungan (Paticcasamuppada/pratityasamutpada).
7.  Mengakui Empat Kesunyataan Mulia sebagai doktrin Buddha yang benar dan mulia.
8.  Mengakui anicca/ksanika, dukkha/santana, dan anatta/anatmakam.
9.   mengakui 37 Bodhipaksyadhamma/Bodhipakiyadhamma
10. Mengakui bahwa dunia ini tiada permulaan atau awal begitu pula akhirnya.

Perbedaan antara Hinayana dan Mahayana: 
          Perbedaan terpenting antara Mahayana dan Hinayana berpokok kepada:
1. Keanggautaan Sanggha;
2. Cita-cita dan tujuan terakhir;
3. pantheon (masyarakat dewa).
          Mengenai keanggautaan Sanggha, Mahayana berpendirian bahwa seluruh umat pemeluk agama Buddha termasuk Sanggha (maka itu dahulu bernama Mahasangghika), jadi tidak hanya para biksu/biksuni saja. Bukankah nirwana itu terbuka untuk setiap orang? perbedaanya hanyalah pada  jalan yang ditempuh. Bagi pendeta, jalan itu lebih pendek dan lebih nyata, dari pada pemeluk biasa.[9]
Berhubungan dengan hal tersebut, maka tujuan terakhir Mahayana bukanlah lagi mengejar tingkat Arhat untuk masuk Nirwana, melainkan uintuk lebih tinggi lagi, ialah menjadi Budha (maka Mahayana disebut pula Buddhayana, sedangkan Hinayana disebut Nirwanayana). Cita-citanya bukanlah untuk mengecap kenikmatan bagi dirinya sendiri, melainkan untuk mengajak dan membimbing orang lain memperoleh kenikmatan itu, yang pokoknya mentiadakan diri sendiri.[10]
          perbedaan ke-3 mengenai soal pantheon, kalau dalam Hinayana para Buddha memang sudah di puja seperti dewa, maka dalam Mahayana jumlah itu sangat diperbanyak, bahkan ditambah lagi dengan mereka-mereka yang sudah menjadi calon Buddha (yaitu para Bodhisattwa). Para Buddha dan Bodhisattwa itu di bagi lagi menjadi Dhiyani Buddha/Dhiyani Bodhisattwa yang adanya dilangit, dan Manusi-Buddha/ Manusi-Bodhisattwa yang turun di dunia manusia ini dan langsung membimbing umat manusia.[11]
          Perbedaan lain anrata Mahayana dan Hinayana adalah sebagai berikut:
  1. Dalam memandang kenyataan dunia hinayana menggunakan realisme psikologis, sedangkan Mahayana adalah idealis, implikasinya hinayana memandang penderitaan di dunia ini adalah sebuah kesunyataan sedang Mahayana menganggap hal ini sebagai sebuah ilusi.
  2. Hinayana menolak adanya keberadaan yang sejati di dalam fenomena dan menolak pernyataan-pernyataan metafisika, Mahayana mnegajarkan Kemutlakan yang abadi (eternal absolute).
  3. Mahayana menganggap Buddha Gotama adalah guru yang merupakan manifestasi dari proyeksi yang absolut, sedangkan dalam Theravada/Hinayana beliau dianggap sebagai manusia normal yang mempunyai kekuatan lebih. Mahayana memandang Buddha adalah transenden, mutlak, dan dipuja sangat tinggi dalam Hinayana Buddha dipuja layaknya seorang guru yang membimbing ke kesucian tidak dilebih-lebihkan.
  4. Nibbana hanya dapat dicapai oleh usaha sendiri. Mahayana percaya bahwa nibbana dapat tercapai melalui bantuan orang luar.
  5. Menurut Mahayana jasa dapat ditransfer (punya parinamana) kepada orang lain, sedang hinayana tidak menyetujuinya hanya dapat menginspirasi mahkluk lain (punya anumodana).
  6. Menurut Hinayana Nibbana adalah tujuan tertinggi dari seseorang sedangkan Mahayana memandang kehidupan sebagai Bodhisatva adalah tujuan yang yang harus dilalui sebelum mencapai Kebuddhaan.
  7. Nibbana adalah kebebasan terakhir dari penderitaan sedang dalam Mahayana hal ini dimengerti sebagai kesadaran akan sesuatu yang absolut. Menurut Mahayana  seseorang sudah mempunyai kehidupan kebudhaan dan secara sungguh-sungguh menyadari akan hal ini.
  8. Hinayana bersifat rasionalistik sedangkan Mahayana bersifat ghaib. Misalnya dalam memandang mantra Mahayana mengakui adanya hal mistis dalam mantra-mantra tetapi hinayana memandang bahwa hal itu didukung oleh banyak factor misal keyakinan, kamma, dan kebersihan bathin sehingga mantra atau paritta akan mempunyai sifat mistik.
  9. Dalam hal bodhisatva Mahayana mengakui bahwa Bodhisatva telah mencapai penerangan sempurna seperti Avalokitesvara Bodhisatva, dalam Hinayana Bodhisatva adalah mahkluk calon Buddha yang masih menyempurnakan paramita untuk meraih penerangan sempurna.
  10. Dalam Hinayana mahkluk suci ada empat macam tingkatan yaitu Sottapana, Sakadagami, Anagami, Arahat. Dalam Mahayana mahkluk suci selain empat tersebut yakni Srotapana, Sakadagamin, Anagamin, Arhat juga terdapat sepuluh tingkat kesucian yaitu Dasabhumi yaitu Pramudita, Vimala, prabhakari, Archismati, Sudurjaya, Abhimukti, Durangama, Acala, Sadhumati, Dharmamegha.
  11. Do`a dan ritual dalam Mahayana menjadi aspek yang dipentingkan karena dapat membimbing kepada pencerahan. Berbeda dengan Hinayana yang tidak terlalu mementingkan do`a dan ritual bahkan melekat pada ritual dan do1a akan terjerumus dalam penderitaan (Silabataparamamsa)
  12. Pencapaian kesucian dalam Hinayana adalah dengan melenyapkan rintangan kekotoran bathin (Kilesaavarana) sedangkan dalam Mahayana pencapaian kesucian adalah dengan melenyapkan rintangan kekotoran bathin (Klesavarana) dan rintangan pengetahuan (Jneyaavarana)
  13. Paramita (kesempurnaan) untuk mencapai sammasambuddha dalam Hinayana berjumlah sepuluh (dasa paramita) yaitu Dana, Sila, Nekhama, Panna, Viriya, Khanti, Sacca, Adhithana, Metta, Upekha. Dalam Mahayana paramita yang ditekankan adalah enam paramita (Sad Paramita) yaitu Dana, Cila, Ksanti, Virya, Dhyana, Prajna. Kadang-kadang menjadi dasa paramita ditambah dengan Upaya-Kausalya, Pranidhana, Bala, Jnana. Penekanan pelaksanaan paramita Mahayana berdasarkan atas Karuna dan Prajna.
  14. Kilesa menurut Hinayana ada sepuluh yaitu Lobha, Dosa, Mana, Dithi, Vicchikicha, Thinamidha, uddhacca, Ahirika, dan Anotappa. Menurut Mahayana ada enam yaitu Raga, Pratigha, Mana, Avidya, Kudrasti, Vicikitsa.


Kesimpulan
Sebelum muncul aliran Mahayana dan Hinayana agama Buddha terpecah menjadi dua yaitu golongan Sthawirawada dan golongan Mahasangghika. Seorang raja yang yang terkenal sebagai pelindung Buddha adalah Kaniska ingin menyatukan Buddha dengan dilangsungkanya Muktamar di Jalandara, tetapi yang berkumpul hanyalah mereka dari golongan Mahasangghika.
Dengan tidak datangnya golongan Sthawiwarada memperlihatkan Perbedaan antara golongan golongan Sthawirawada dan golongan Mahasangghika yang sudah sedemikian lebar, sehingga masing-masing telah menempuh jalan sendiri dan mengalami perkembangan sendiri pula. aliran Mahasangghika, sehingga kini menjadi bentuk baru yang memakai nama Mahayana sebagai lawan yang tegas dari golongan Sthawirawada yang mereka sebut Hinayana.
          Bagi pengikut Mahayana  diyakini, bahwa setiap umat Budha hanya dapat mecapai Nirwana kalau mendapat bantuan para orang suci yang telah mendahului mereka dan lelah menempati kedudukan baik di nirwana tersebut. Sedangkan Hinayana, bagi aliran Hinayana beranggapan bahwa keberhasilan umat Buddha dalam mencapai nirwana hanya dengan usaha sendiri, tanpa bantuan dari pihak luar manapun.
          Dalam pelaksanaan antara Mahayana dan Hinayana terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaannya yaitu mengakui bahwa Buddha adalah tuhan mereka dan Bersumber pada kitab Suci Tipitaka. Sedangkan perbedaannya 1. Keanggautaan Sanggha; 2. Cita-cita dan tujuan terakhir; 3. pantheon (masyarakat dewa).




DAFTAR PUSTAKA
Simkins, dkk. 2000. Simple buddhisme “Panduan menuju hidup yang senantiasa tercerahkan”. Jakarta:PT Buana Ilmu Populer
Stokes, Gillian. 2000. Seri Siapa Dia “Buddha”. Jakarta:Erlangga
 Soekmono, R. 2002. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius
Su’ud, Abu. 2006. Asia Selatan. Semarang:                    
Su’ud, Abu.1988. Memahami sejarah Bangsa-Bangsa di Asia Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.








[1] Soekmono, R. 2002. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius
Su’ud, Abu. 2006. Asia Selatan. Semarang:hal 24                

[2] Stokes, Gillian. 2000. Seri Siapa Dia “Buddha”. Jakarta:Erlangga hal 5

[3] Simkins, dkk. 2000. Simple buddhisme “Panduan menuju hidup yang senantiasa tercerahkan”. Jakarta:PT Buana Ilmu Populer hal 29

[4] Soekmono, R. 2002. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius Su’ud, Abu. 2006. Asia Selatan. Semarang: 25                   

[5] Ibid hal 25

[6] Abu,Su’ud.1988. Memahami sejarah Bangsa-Bangsa di Asia Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan hal 57


[7] Simkins, dkk. 2000. Simple buddhisme “Panduan menuju hidup yang senantiasa tercerahkan”. Jakarta:PT Buana Ilmu Populer hal 24

[8]  Abu,Su’ud.1988. Memahami sejarah Bangsa-Bangsa di Asia Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan hal104

[9]  Soekmono, R. 2002. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius Su’ud, Abu. 2006. Asia Selatan. Semarang: hal 25                  


[10] Ibid hal25

[11] Ibid hal 25-26

1 komentar:

Yang terkasih penulis blog,

Adalah perlu Anda ketahui bahwa penggunaan istilah "Hinayana" bukanlah istilah resmi dan merupakan sebutan yg digunakan kaum Mahasanghika kepada mereka yg bukan termasuk golongan mereka sendiri. istilah ini kurang baik, selain tidak 'politically corect', sebaiknya tidak digunakan lagi karena mengandung makna 'pelecehan' terhadap kaum konservatif.

Secara umum blog ini sudah bagus, namun akan lebih baik apabila pembabaran fakta lebih berimbang dan tidak terlalu condong ke satu pihak saja. perlu dieksplorasi lebih lanjut lagi baik dari sudut pandang kaum konservatif, mengapa mereka tidak setuju dengan pandangan kaum Mahasanghika, dan begitu juga sebaliknya. karena tentu masing-masing pihak didukung oleh argumen berlandaskan Tripitaka yg dapat dipertanggung-jawabkan. Selain itu perlu dipahami pula bahwa pada jalan saat perpisahan kedua mazhab ini terjadi, masih terdapat Arahat yg masih hidup yg mengetahui kebenaran Dhamma, jalan yg membawa pembebasan. mengapa para Arahat yg tercerahkan perlu memisahkan diri dari mereka yg menganut paham yg berbeda adalah demi pelestarian ajaran asli dari Sang Buddha. ini adalah menyebab kenapa kedua paham tidak dapat dipersatukan karena ini menyangkut pemahaman dan interpretasi yg bersifat fundamental. Bagaimanapun, sebagai umat awam alangkah baiknya perbedaan ini tidak kita pertajam dengan pembabaran fakta setengah matang, apalagi mungkin dengan terselipkan pendapat pribadi yg bisa mengaburkan obyektivitas dari permasalahan yg sebenarnya.

Kedua mazhab Theravada dan Mahayana, ditambah juga dengan mazhab Tantrayana adalah mazhab resmi dimana ketiganya diakui seluruh dunia sebagai Agama Buddha yg dianggap tidak terlalu menyimpang jauh, dan masih mengandung ajaran asli Siddharta Gotama karena kketiganya memenuhi kriteria-kriteria tertentu yg merupakan intisari Dhamma yg bersumber dari Tripitaka, yang dibahas dalam forum resmi sedunia. (mungkin fakta ini juga perlu ditambahkan).

Jadi sebagai penutup, menurut hemat Saya ketiga mazhab tersebut merupakan asset kekayaan Buddha Sasana yangmana terlepas dari perbedaan yg ada, dapat membantu umat manusia terbebas dari samsara, sehingga pantas mendapatkan penghormatan yg setinggi-tingginya terutama dari kita umat Puthujjanā yg memiliki banyak debu di mata kita; karena kebijaksanaan dan pencerahan seorang Puthujjanā yg terbatas tidak dapat dipertanggung-jawabkan obyektivitasnya. Semoga masukan Saya dapat berguna, mohon dimaklumi bila Ada kata yg kurang berkenan, semata-mata komentar ini Saya tulis demi tujuan yg baik saja, bagaimana tanggapan penulis blog adalah wewenang Anda sepenuhnya.

Akhir kata, semoga semua mahkluk dapat berbahagia Dan tenteram.

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More